Sampai es dalam gelasku mengembun, dan sampai aku berubah pikiran tetap saja aku memikirkannya, memangnya mudah melupakan sesuatu?
Walau ruang antar jemariku kosong, aku tak peduli karena saat ini aku tak butuh sandaran, sandaran yang pada akhirnya hanya membuatku terperosok.
Aku tak akan menggenggam pasir kuat-kuat, karena itu membuat butirannya lolos dari tanganku, juga tak akan membuka tanganku untuk menunggunya tertiup angin.
Walaupun kataku berharap itu menyedihkan, tapi aku juga manusia yang penuh pengharapan, untuk suatu hari nanti agar aku tak terluka.
Hebat seandainya keluhan kuhilangkan dari daftar pelepas beban, jadi jangan heran bila aku juga manusia yang penuh dengan keluhan.
Silahkan kecewa untuk yang tidak setuju dengan tulisanku ini, karena aku memang manusia yang mengecewakan, jadi jangan menyesal bila suatu saat ada yang aku kecewakan!
Walau ruang antar jemariku kosong, aku tak peduli karena saat ini aku tak butuh sandaran, sandaran yang pada akhirnya hanya membuatku terperosok.
Aku tak akan menggenggam pasir kuat-kuat, karena itu membuat butirannya lolos dari tanganku, juga tak akan membuka tanganku untuk menunggunya tertiup angin.
Walaupun kataku berharap itu menyedihkan, tapi aku juga manusia yang penuh pengharapan, untuk suatu hari nanti agar aku tak terluka.
Hebat seandainya keluhan kuhilangkan dari daftar pelepas beban, jadi jangan heran bila aku juga manusia yang penuh dengan keluhan.
Silahkan kecewa untuk yang tidak setuju dengan tulisanku ini, karena aku memang manusia yang mengecewakan, jadi jangan menyesal bila suatu saat ada yang aku kecewakan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar