selamat datang

aku hanya mengungkap yang aku fikirkan, bukan sepenuhnya kisahku

Kamis, 04 Agustus 2011

jangan bawa dukamu padaku!


bukankah setiap orang memiliki kisah mereka masing-masing?
dan bukankah setiap dari kisah mereka berbeda-beda?
juga denganmu yang lebih memilih kisah bersama dia
dengan seenaknya meninggalkan aku sendiri
jika saat ini tiba-tiba kau terluka karena dirinya
kau tidak perlu mengadu kepadaku, itu sudah menjadi pilihanmu
ketika kau datang mengungkap semua dukamu
bercerita panjang lebar tentang kisahmu
aku bukannya diam dan pasrah saja mendengarmu melimpahkan semua keluh kesah
hanya kebetulan saja aku adalah orang yang berada di dekatmu ketika kau berduka
tidak adil jika semua duka kau limpahkan padaku
sedangkan ketika bersuka cita kau hanya membawa serta dirinya
aku hanya menjadi bahan pertimbangan saat kau berduka
jangan harap kau bisa membawa dukamu padaku
karena aku akan menjalani kisahku sendiri

Selasa, 02 Agustus 2011

surat cinta


Bukankah surat cinta ini ditulis
Untuk dihantarkan kepada seorang yang dipuja
Seperti hujan yang jatuh ritmis
Menggenangi pelupuk mawar yang hendak mekar
Embun yang perlahan menjadi satu
Jatuh bersama menjadi setetes air
Menggantikan senja dengan fajar
Bukankah surat cinta ini berkisah
Akan kebanggaan pecinta tentang yang dicintainya
Seperti kepompong yang hendak berubah bentuk
Menjadi kupu-kupu yang bersayap
Malam menguraikan kisahnya sendiri
Melepas cahaya senja yang berwarna jingga
Singkat cerita hidup adalah fana
Tak akan berjalan tanpa adanya kehendak dari sang kuasa

Senin, 01 Agustus 2011

tak buruk

Seberkas cahaya memantul dari rerimbunan daun
Menjelma menjadi sebuah bayangan yang teduh
Semilirnya angin berhembus kasat mata
Kiranya aku masih tertegun, memandang
sepasang mata indah setenang telaga
Yang bahkan mampu menyembunyikan riak didalamnya
Raga ini terpaku hendak bergerak namun enggan
Senyum itu membuat sedetik, aku tersihir
Setelah sadar ternyata sepasang mata tadi
Berikut senyum yang menyihirku telah lenyap
Bagai permadani indah yang menyembunyikan
Pintalan benang tidak rapi di baliknya
Begitu pula hati ini seperti pintalan benang yang buruk
Tertutup oleh indahnya rupa permadani
Untuk secuil harap yang menghampiri
Baru kusadari, aku membutuhkan hati untuk berteduh

dikala senja basah kuyup

Bintang-bintang menunduk untuk menciummu
Aku berbaring terjaga dan merindukanmu
Tuangkan dosis untuk suasana berat

Karena aku akan tertidur aman dan nyenyak
Tapi aku akan kehilangan lenganmu di sekitarku
Karena aku berharap kau ada di sini

Aku akan menonton pergantian malam lampu-biru
Tapi itu tidak sama tanpa dirimu
Karena diperlukan dua orang untuk berbisik diam-diam

Keheningan tidak begitu buruk
sampai aku melihat tanganku dan merasa sedih
Karena ruang-ruang di antara jari-jariku

Aku akan menemukan peristirahatan dengan cara baru
Meskipun aku tidak tidur dalam dua hari
Karena nostalgia dingin menggigil tulangku

Tapi di kala senja  basah kuyup
Aku akan duduk di teras depan sepanjang malam
Setinggi pinggang dalam pikiran karena
Ketika aku teringat padamu aku tidak merasa begitu sendirian

Aku tidak merasa begitu sendirian
Sebanyak kali aku berkedip
Aku akan teringat padamu malam ini

Ketika mata ungu mendapatkan lebih cerah
Dan sayap berat  tumbuh ringan
Aku akan merasakan langit dan merasa hidup kembali

Dan aku akan melupakan dunia yang aku tahu
Tapi aku bersumpah aku tidak akan melupakan mu
Kalau suaraku bisa mencapai kembali melalui masa lalu
Aku akan berbisik di telingamu
Aku berharap kau ada di sini

setetes rindu

Setetes rindu mengapung diteluk hatiku
Mengaburkan fikiran dan jejak langkahku
Ritme yang kujalani hendak goyah
Suaraku tercekat ketika kalbu ini memohon
Ada pinta di dalam sana
Buka hatimu untuk sesuatu kenangan
Aku bergeming hendak meneruskan langkah
Adakah disana jiwa yang tak kunjung pergi
Aku sudah lelah mencoba tengadah
Rintik hujan tak kunjung datang
Padahal hati ini sudah kemarau panjang
kuberharap temukan muara tuk hati ini

kawan

Bersamamu kawan...
Aku merasakan apa yang kau rasakan
Tapi, aku tak bisa menjadi sandaranmu
Aku juga rapuh, tapi aku tak pernah mengatakannya
Aku terlalu naif...
Hatiku satu, namun lukaku seribu
Aku kawan yang penuh luka
Aku penuh saran, tapi aku tak mahir melakukannya
Jika  saat itu aku berkata agar kau bersabar
Saat ini yang ingin pertama kukatakan padamu
Adalah kata maaf, aku juga belum mampu bersabar

patah hati

Angan ini mengabur dalam keheningan malam
Mengikuti jejak gerimis yang berjatuhan di atap rumah
Bila tak ingat sudah lama aku terpekur dalam diam
Mungkin aku tak akan beranjak dari tempat ini
Lantunan lagu itu masih saja yang dulu
Tak hentinya menghempas rapatnya susunan hatiku
Sayatan itu masih meninggalkan celah
Walaupun tak lebar, tapi mampu membuka luka
Kuuraikan peristiwa yang pernah ku alami
Tidak kah itu buruk?
Aku patah hati sebelum sempat memilikinya

nisan ini

Nisan ini masih sama dengan nisan yang dulu kusentuh
Hanya nama yang tertera padanya sedikit kotor dan memudar
Gundukan tanah yang telah ditumbuhi rumput ini
Masih setia menjaga raga yang tertanam dibawahnya
Mungkin saat ini sudah berubah menjadi tulang-belulang
Tak tau harus bagaimana aku saat ini menemuimu
Bila memang esokku tiada lusa bolehkah ku meminta
Mata ini tak mampu lagi menatap senyummu
Telinga ini tak mampu lagi mendengar tawamu
Hidung ini tak mampu lagi mencium aroma tubuhmu
Dan kulit ini tak mampu lagi merasakan
Hangatnya genggaman tanganmu
Untuk itu izinkanku memelukmu dalam mimpiku

tentang aku

Sampai es dalam gelasku mengembun, dan sampai aku berubah pikiran tetap saja aku memikirkannya, memangnya mudah melupakan sesuatu?
Walau ruang antar jemariku kosong, aku tak peduli karena saat ini aku tak butuh sandaran, sandaran yang pada akhirnya hanya membuatku terperosok.
Aku tak akan menggenggam pasir kuat-kuat, karena itu membuat butirannya lolos dari tanganku, juga tak akan membuka tanganku untuk menunggunya tertiup angin.
Walaupun kataku berharap itu menyedihkan, tapi aku juga manusia yang penuh pengharapan, untuk suatu hari nanti agar aku tak terluka.
Hebat seandainya keluhan kuhilangkan dari daftar pelepas beban, jadi jangan heran bila aku juga manusia yang penuh dengan keluhan.
Silahkan kecewa untuk yang tidak setuju dengan tulisanku ini, karena aku memang manusia yang mengecewakan, jadi jangan menyesal bila suatu saat ada yang aku kecewakan!

kerinduan yang rapuh

hening ketika rindu ini tak terbalas tak mengerti juga harus kulabuhkan dengan siapa rindu yang hanya goreskan kisah tanpa nyawa ini bila jalanku benar aku tak akan terseok menapaki langkah namun bila langkahku salah bukan tak mungkin batu sandungan akan aku hampiri dini bila aku harus patah hati bila uluran tangan masih mampu aku raih seperti estafet cinta yang pada jarak tertentu harus merelakan yang dipertahankan agar tak jatuh dalam genggaman kepada yang lain mimpi mungkin yang tak akan pernah aku impikan karena terlalu takut bila aku tak dapat menggapainya dan akhirnya yang bisa kulakukan saat ini hanya berkhayal tak tahu lagi apa yang harus ku tulis rasanya semua mengalir begitu saja tanpa bisa aku kendalikan hati ini hendak bicara apa yang ingin ia bicarakan karena menyerah adalah jalan paling aman

aku,,,

diantara bulan yang terpekur
menyalahi bintang-bintang yang mendekatinya
kusinggahi loteng kayu rapuh yang termakan zaman
salah satu anak kayu berlubang memamerkan ruang dibawahnya
kusingkap debu yang menutupi, tempat ini terlihat usang
namun memberikan aku privas untuk berfikir
sombongnya aku, seperti tau apa yang hendak kupikirkan
raga ini menjelmakan diri menjadi patung
hendak berbohong pada alam agar mendapat sebuah ketenangan

harusnya

2 dari 3 pernyataan itu bohong!
ia enggan mengurai hatiku
ia enggan mencoba menemukan sesuatu
jika ia berminat harusnya
mencarikanku wadah bila aku cairan yang mudah tumpah
menyisakanku tabung bila aku gas yang mudah bersenyawa
dan bila aku padatan sedialah ia membersihkanku dari debu
kini aku bukan sesuatu yang murni
cairan itu tumpah, gas itu bersenyawa, dan padatan itu berdebu
sesuatu yang kacau apabila di pandang
bukan keindahan yang tercipta melainkan sakit mata
jika sejengkal langkahku saja tak membuatnya berpaling
lupakan aku dan aku tak akan mengganggumu!

kisah tanpa nyawa

sederhanakan saja dukaku atas dirimu
agar ini tak terlalu nampak membuatku terbeban
agar ini tak membuatku nampak menyedihkan
tak akan sama bila kau mencampakkanku
tadinya aku akan kembali membuka tanganku
tapi sepertinya kau hanya mengulur waktu untuk menyakitiku
aku tak akan melepas senyum pada wajahku
hanya karena kau membuatku terluka
aku bukannya patah hati hanya saja terlalu kebal bagiku tuk terluka
tak akan lagi aku melanjutkan kisah tanpa nyawa ini
bukannya tak mau aku mengumpulkan serpihan asa yang pernah aku pecahkan
memang keadilan belum ada pada jalannya
walaupun akhirnya harus nelangsa
karena tak bisa mempertahankan yang ada
biarkan ini berjalan sebagaimana mestinya
aku akan lebih memilih berdiri diatas aspal tanpa alas kaki
pada saat siang yang terik daripada harus menyadari
kau kembali bohong padaku tuk kesekian kali